Selasa, 27 Mei 2014

KISAH PEMUDA YANG HAMPIR BUNUH DIRI KARENA PUTUS ASA, KEMUDIAN RAHMAT ALLAH MENKGHAMPIRINYA



Berkata pemuda yang bertaubat, “Saya melewati dua puluh tahun umurku dalam gelap gulita dan tergelincir ke dalam jurang yang dalam. Saya tidak merasakan manisnya dunia, padahal harta banyak dan teman pun berlimpah. Apa yang kurang dariku? Jiwaku lapar dan dadaku sesak. Apa yang dapat mengenyangkan rasa lapar itu dan melapangkan kesempitan itu? Jiwaku tidak pernah kenyang dan nyanyian-nyanyian tidak pernah melapangkan dadaku. Bahkan sebaliknya, rasa lapar itu semakin bertambah dan kesempitan itu semakin menjadi. Saya mengganti teman-teman, melakukan perjalanan dan kebali. Saya banyak begadang dan minum, banyak bercanda dan lelah. Akan tetapi, rasa lapar itu tetap bertambah dan kesempitan begitu juga. Saya merasa dipenjara di dunia sendiri dan bumi dengan kekuasaannya serasa sempit. Saya banyak berpikir dan lama termenung.
                Akhirnya, tampaklah jalan keluar itu. Sekarang saya akan merasakan ketenangan. Inilah pisau ditanganku. Ia menampakkann sinar senyuman dan keridhaan dengan jalan keluar ini. Semua manusia telah lelap dan keluarga pun telah tidur. Tidak ada yang tertinggal kecuali detik-detik. Saya akan hidup dalam masa-masa ketenangan. Akan tetapi, ketika detik-detik itu menghampiri, ketika pisau telah mendekati hatiku yang mati, maka datanglah dari keheningna yang jauh lantunan suara yang berkata, ‘Allahu Akbar...Allahu Akbar’. Jatuhlah pisau dari tanganku dan bergetarlah hatiku yang mati. Seakan-akan ia sedang berada di alam lain dan bangun setelah menjalani tidur panjang. Celakalah jiwaku! Apa yang terjadi? Ganjilkah suara ini yang selama dua puluh tahun saya mendengarnya? Apakah saya tidak merasakan maknanya kecuali sekarang? Maka saya segera mewujudkan keinginan jiwaku dengan menjawab seruan ini.


              Saya mengambil wudhu. Saya memulai wudhu dengan membasahi wajahku yang muda, lalu ia menjadi segar dan mengalirkan kesegarannya ke dalam jiwaku. Saya pergi ke jalanan menuju masjid. Alam menakutkan dengan ketenangannya, tidak ada suara yang melengking dan tidak ada teriakan. Saya memasuki masjid dan mengerjakan shalat sunnah Fajar. Saya berdiri di barisan bersama manusia lainnya. Kelompok manusia yang belum pernah saya temui selama hidupku. Wajah-wajah putih yang menyebarkan cahaya dan jiwa-jiwa baik yang tenteram. Kemudian majulah seorang imam di antara semua orang seraya menghadapkan wajahnya kepada mereka dan memerintahkan untuk meluruskan barisan. Saya shalat di belakangnya. Jiwaku terasa tenteram dan dadaku terasa lapang. Imam mulai membaca beberapa ayat dan saya terdiam pada detik-detik itu. Maka, bercucuranlah air mata yang saya rasakan tetesannya. Saya menangis dengan tangisan sebenarnya yang muncul dari jiwaku melalui desisan seperti desisan orang yang bicara tiba-tiba. Maka, bercucuranlah air mata dengan derasannya, mengalir membasahi pipiku, menyirami tanah tandus dalam hatiku yang mati sehingga hiduplah dengan air mata ini kematian hatiku. Hujan ini disertai dengan suara petir, yaitu petir rahmat, suara kesadaranku dan tangisanku disebabkan rasa takut kepada Allah.
 

0 komentar:

Posting Komentar

By :
Free Blog Templates