Berkata
pemuda yang bertaubat, “Saya melewati dua puluh tahun umurku dalam gelap gulita
dan tergelincir ke dalam jurang yang dalam. Saya tidak merasakan manisnya dunia,
padahal harta banyak dan teman pun berlimpah. Apa yang kurang dariku? Jiwaku
lapar dan dadaku sesak. Apa yang dapat mengenyangkan rasa lapar itu dan
melapangkan kesempitan itu? Jiwaku tidak pernah kenyang dan nyanyian-nyanyian
tidak pernah melapangkan dadaku. Bahkan sebaliknya, rasa lapar itu semakin
bertambah dan kesempitan itu semakin menjadi. Saya mengganti teman-teman,
melakukan perjalanan dan kebali. Saya banyak begadang dan minum, banyak
bercanda dan lelah. Akan tetapi, rasa lapar itu tetap bertambah dan kesempitan
begitu juga. Saya merasa dipenjara di dunia sendiri dan bumi dengan kekuasaannya
serasa sempit. Saya banyak berpikir dan lama termenung.
Akhirnya, tampaklah jalan keluar
itu. Sekarang saya akan merasakan ketenangan. Inilah pisau ditanganku. Ia
menampakkann sinar senyuman dan keridhaan dengan jalan keluar ini. Semua
manusia telah lelap dan keluarga pun telah tidur. Tidak ada yang tertinggal
kecuali detik-detik. Saya akan hidup dalam masa-masa ketenangan. Akan tetapi,
ketika detik-detik itu menghampiri, ketika pisau telah mendekati hatiku yang
mati, maka datanglah dari keheningna yang jauh lantunan suara yang berkata,
‘Allahu Akbar...Allahu Akbar’. Jatuhlah pisau dari tanganku dan bergetarlah
hatiku yang mati. Seakan-akan ia sedang berada di alam lain dan bangun setelah
menjalani tidur panjang. Celakalah jiwaku! Apa yang terjadi? Ganjilkah suara
ini yang selama dua puluh tahun saya mendengarnya? Apakah saya tidak merasakan
maknanya kecuali sekarang? Maka saya segera mewujudkan keinginan jiwaku dengan
menjawab seruan ini.
Saya mengambil
wudhu. Saya memulai wudhu dengan membasahi wajahku yang muda, lalu ia menjadi
segar dan mengalirkan kesegarannya ke dalam jiwaku. Saya pergi ke jalanan
menuju masjid. Alam menakutkan dengan ketenangannya, tidak ada suara yang
melengking dan tidak ada teriakan. Saya memasuki masjid dan mengerjakan shalat
sunnah Fajar. Saya berdiri di barisan bersama manusia lainnya. Kelompok manusia
yang belum pernah saya temui selama hidupku. Wajah-wajah putih yang menyebarkan
cahaya dan jiwa-jiwa baik yang tenteram. Kemudian majulah seorang imam di
antara semua orang seraya menghadapkan wajahnya kepada mereka dan memerintahkan
untuk meluruskan barisan. Saya shalat di belakangnya. Jiwaku terasa tenteram
dan dadaku terasa lapang. Imam mulai membaca beberapa ayat dan saya terdiam
pada detik-detik itu. Maka, bercucuranlah air mata yang saya rasakan
tetesannya. Saya menangis dengan tangisan sebenarnya yang muncul dari jiwaku
melalui desisan seperti desisan orang yang bicara tiba-tiba. Maka, bercucuranlah
air mata dengan derasannya, mengalir membasahi pipiku, menyirami tanah tandus
dalam hatiku yang mati sehingga hiduplah dengan air mata ini kematian hatiku.
Hujan ini disertai dengan suara petir, yaitu petir rahmat, suara kesadaranku
dan tangisanku disebabkan rasa takut kepada Allah.

0 komentar:
Posting Komentar